Enjoyjambi's Blog

Just another WordPress.com weblog

Diabetes in children January 7, 2010

Filed under: HEALTHY — enjoyjambi @ 2:20 am
Tags: , ,

Reviewed by Dr Stephen Greene, consultant paediatrician, Professor Ian Campbell, consultant physician and Dr Soon Song, consultant physician.

Type 1 diabetes is the most common form of diabetes in children: 90-95 per cent of under 16s with diabetes have this type.

It is caused by the inability of the pancreas to produce insulin.

Type 1 diabetes is classified as an autoimmune disease, meaning a condition in which the body’s immune system ‘attacks’ one of the body’s own tissues or organs.

In Type 1 diabetes it’s the insulin-producing cells in the pancreas that are destroyed.

How common is it?

Childhood diabetes isn’t common, but there are marked variations around the world:

  • in England and Wales 17 children per 100,000 develop diabetes each year
  • in Scotland the figure is 25 per 100,000
  • in Finland it’s 43 per 100,000
  • in Japan it’s 3 per 100,000.

The last 30 years has seen a threefold increase in the number of cases of childhood diabetes.

In Europe and America, Type 2 diabetes has been seen for the first time in young people. This is probably in part caused by the increasing trend towards obesity in our society.

But obesity doesn’t explain the increase in the numbers of Type 1 diabetes in children – who make up the majority of new cases.

What causes childhood diabetes?

As with adults, the cause of childhood diabetes is not understood. It probably involves a combination of genes and environmental triggers.

The majority of children who develop Type 1 don’t have a family history of diabetes.

What are the symptoms?

The main symptoms are the same as in adults. They tend to come on over a few weeks:

  • thirst
  • weight loss
  • tiredness
  • frequent urination.

Symptoms that are more typical for children include:

  • tummy pains
  • headaches
  • behaviour problems.

Sometimes diabetic acidosis occurs before diabetes is diagnosed, although this happens less often in the UK due to better awareness of the symptoms to look out for.

Doctors should consider the possibility of diabetes in any child who has an otherwise unexplained history of illness or tummy pains for a few weeks.

If diabetes is diagnosed, your child should be referred to the regional specialist in childhood diabetes.

How is diabetes treated in children?

The specialised nature of managing childhood diabetes means that most children are cared for by the hospital rather than by their GP.

Most children with diabetes need insulin treatment. If this is the case, your child will need an individual insulin routine, which will be planned with the diabetes team.

  • Most now use frequent daily dosage regimes of fast-acting insulin during the day and slow-acting insulin at night.
  • Very small children normally don’t need an injection at night, but will need one as they grow older.
  • Increasing numbers of older children use continuous insulin pumps.

Often in the first year after diagnosis, your child may need only a small dose of insulin. This is referred to as ‘the honeymoon period’.

As well as insulin treatment, good glucose control and avoidance of ‘hypos’ (low blood glucose attacks) is important. This is because many of the complications of diabetes increase with the length of time diabetes has been present.

What can parents do?

Living with diabetes can put families under considerable strain, so access to backup support is crucial. This may be from your GP, the hospital team or social services.

Understanding all the different aspects of diabetes and its treatment requires patience, but will benefit your child and family life.

The diabetes team at the hospital can help you with the list below.

  • Learn how to administer insulin injections. Insulin is usually injected into the skin over the abdomen or the thighs.
  • Know the symptoms of low blood glucose and diabetic acidosis and what to do about them.
  • Make sure glucose is always available.
  • Measure blood glucose levels and teach your child how to do this as soon as they are old enough.
  • Teach your child how to self-administer insulin injections as soon as they are old enough – around the age of nine is typical.
  • See the doctor on a regular basis, and particularly if your child becomes ill for any reason – treatment is likely to need adjusting.
  • Inform the school and friends about the symptoms of low blood glucose and what to do about them.
  • Contact your local diabetes association for help and support.

Diet

A trained dietician is usually one of the members of the hospital diabetes team.

It’s important to give your child a healthy balanced diet that is high in fibre and carbohydrates.

A healthy diet is the same for everyone, whether or not they have diabetes.

How much your child should eat depends on age and weight. The dietician and parents should determine this together.

Sweets are no longer off limits because the ‘diabetic diet’ is now a relic of the past.

Once your child gets to know how her body responds to eating and taking insulin, sweets in moderation are possible – accompanied by the appropriate dose of insulin.

Physical activity

Physical activity is important for children with diabetes, who should try to exercise every day.

Physical activity lowers the blood sugar level, so if your child takes insulin, she may need to reduce the dose.

This is because a combination of too much insulin and exercise can lower the blood sugar level and lead to hypos. To counter this, your child should always carry sugar.

Physical activity also affects how much your child can eat. Before your child exercises or plays sport, give extra bread, juice or other carbohydrates.

In the long term

A child who develops diabetes will live with the condition longer than someone who develops diabetes in adulthood.

The longer diabetes is present, the higher the risk of long-term complications such as those affecting the eyes and kidneys.

These can start after puberty, but are usually a concern only in later life.

Regular checkups for late-stage complications begin around the age of nine. From then on, this checkup is done every year.

Based on a text by Dr Jan E. Henriksen, consultant and Bendt B Jacobsen

Source

Advertisements
 

Diabetes pada Anak

Filed under: HEALTHY — enjoyjambi @ 2:14 am
Tags: , ,

POLA makan anak-anak yang masih sering berubah mungkin dianggap wajar oleh orang tua. Anak yang tiba-tiba lebih banyak makan dan lebih banyak minum sekaligus lebih sering buang air kecil mungkin sering dipandang biasa. Tapi, coba cermati lebih seksama. Di tengah perubahan itu, apakah si anak malah mengalami penurunan berat badan? Atau dia yang biasanya sudah tidak mengompol malah sering mengompol.

Gejala-gejala tersebut bisa jadi menunjukkan anak Anda terkena diabetes. Diabetes pada anak memang bukan kondisi yang umum terjadi. Akan tetapi, kondisi itu rupanya tengah merebak. Sekitar tiga puluh tahun silam, kasus diabetes pada anak bisa dibilang tidak pernah ditemukan. Pada tahun ini saja, spesialis endokrinologi anak dari Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia Aman Pulungan menyatakan sudah menangani 20 kasus.

Diabetes pada anak bisa terjadi pada usia berapa saja. “Tidak ada batasan usia. Bahkan pada anak yang baru lahir sekalipun,” ujarnya saat ditemui di sela jam praktiknya di Jakarta, Senin (5/11).

Salah satu penyebabnya ialah keadaan auto-immune yang dibawa gen keturunan dan dicetuskan, misalnya, oleh infeksi virus. Tapi, Aman menyatakan 70%-80% kasus diabetes anak yang ditanganinya tidak memiliki riwayat diabetes dalam keluarga. Jadi, diabetes pada anak bisa juga merupakan keadaan idiopatik yang belum bisa diketahui penyebabnya.

Umumnya diabetes yang diderita anak-anak adalah diabetes tipe 1 yang bergantung pada insulin. Diabetes jenis ini, dijelaskan Aman, disebabkan pankreas tidak dapat menghasilkan insulin atau menghasilkan dalam jumlah sangat sedikit. ”Padahal insulin dibutuhkan untuk memasukkan gula ke proses metabolisme tubuh yang mengubahnya menjadi energi,” ujarnya.

Jika insulin tidak ada atau sangat sedikit, proses metabolisme tubuh tidak dapat terjadi. Alhasil, kadar gula di dalam darah meningkat dan tidak ada energi yang terbentuk. Anak akan cepat merasa lelah, cepat lapar, dan cepat haus.

Meski belum banyak, ada pula anak yang terserang diabetes tipe 2 yang tidak bergantung pada insulin. Diabetes ini disebabkan terjadinya resistensi insulin. ”Insulinnya normal, tapi tidak berfungsi optimal dalam tubuh,” papar dokter yang berpraktik di Rumah Sakit Pondok Indah dan Klinik Anakku ini.

Karena pola makan berlebihan tanpa olahraga, insulin yang harusnya bekerja memproses asupan gula perlahan tidak mampu lagi mengolah asupan yang masuk. Akibatnya, tidak terjadi metabolisme sempurna. Biasanya anak dengan berat badan berlebih berisiko terkena diabetes ini.

Aman menyayangkan banyaknya kasus diabetes anak yang tidak ditangani dengan tepat. ”Anak diabetes banyak juga yang masuk ke unit gawat darurat dengan gejala sakit perut, mual-mual, hingga muntah. Lalu mereka didiagnosa usus buntu atau pneumonia. Tidak ada yang terpikir untuk melakukan tes gula darah. Mungkin karena pasiennya masih anak-anak,” urainya mengingatkan.

Aman mengakui belum ada pencegahan yang bisa dilakukan. Oleh karena itu, hal yang perlu diperhatikan adalah penanganannya. ”Perlu ditingkatkan kesadaran, terutama orang tua, bahwa diabetes bisa menyerang anak-anak,” tegasnya.

Satu-satunya jalan pengobatan yang dapat dilakukan hingga saat ini adalah memberikan insulin dari luar secara teratur. Dengan begitu, metabolisme bisa terus terjadi. Bentuknya bisa berupa suntikan, pen, pompa, atau semprotan. ”Ini harus dilakukan seumur hidup,” kata Aman. Biasanya anak perlu diberikan pengertian bahwa kondisi tubuhnya mengharuskan dia untuk mampu memasukkan insulin ke tubuhnya sendiri. Untuk selanjutnya, ia akan harus memantau pola makannya. Biasanya, kata Aman, anak-anak usia 7-8 tahun sudah dapat diajarkan menggunakan alat untuk memasukkan insulin.

Berbagai perawatan anak diabetes itu tentu membutuhkan dukungan dari keluarga dan tim ahli. Menurut Aman, penanganan anak dengan diabetes membutuhkan tim diabetik tersendiri. ”Terdiri dari dokter spesialis endokrin anak, dietician, pembimbing yang biasanya perawat serta psikolog,” kata dia.

Seorang dietician atau ahli gizi akan membantu menyusun pola makan anak diabetes agar tetap mengasup gizi lengkap karena usianya masih dalam pertumbuhan. Sedangkan psikolog akan membantu si anak dan keluarganya untuk tetap berlapang dada menerima kondisi tersebut. Hal yang perlu diingat, menurut Aman, anak dengan diabetes belum tentu berisiko umur pendek. ”Asalkan penanganannya tepat,” kata dia.

Empat perhatian utama dalam perawatan anak dengan diabetes meliputi pemberian insulin, pengaturan pola makan, olahraga, dan edukasi. Saat ini dunia medis masih menyempurnakan cara pengobatan diabetes lain. Yakni transplantasi pankreas.

Batasi jajanan manis
Penderita diabetes memang identik dengan pembatasan makanan. ”Tapi jangan samakan pembatasan itu dengan anak-anak karena usia mereka masih dalam pertumbuhan,” tutur Aman.

Nutrisionis dari Yayasan Gizi Kuliner, Susirah Soetardjo, Senin (5/11) lalu, menyatakan, pada orang dewasa, konsumsi gula bisa diganti dengan pemanis buatan. Tapi untuk anak-anak, makanan manis itu lebih baik diganti buah-buahan. “Daripada minum minuman ringan, lebih baik jus yang dibuat sendiri. Fruktosa atau gula buah juga tidak cepat diserap seperti gula biasa,” tambahnya.

Orang tua diharapkan tidak memberi akses mudah untuk jajanan atau minuman berkadar gula tinggi. ”Misalnya saat orang tua pulang dari kantor, jangan biasakan membawa oleh-oleh biskuit, donat, atau minuman manis dalam kemasan,” ujar Susirah.

Pihak sekolah pun perlu diajak bekerja sama melindungi anak dari serangan minuman atau makanan bergula tinggi. Sekolah harus diinformasikan bahwa anak Anda mengidap diabetes.

Susirah mencontohkan kantin-kantin sekolah di negara maju yang mencoba mengganti mesin penjual minuman ringan dengan jus buah. ”Awalnya memang tidak populer, tapi lama-lama, karena tidak ada pilihan lain, penjualan jadi naik,” tambah Susirah.

Gerakan-gerakan seperti itu ditambah pendidikan memadai tentang gizi dari sekolah dan rumah baru mampu menyaingi kekuatan iklan. Tapi, seminggu sekali pada hari libur, anak diberi ‘hadiah’ boleh makan donat atau minum minuman ringan tidak apa-apa. Namun, harus tetap diingat porsi tidak boleh berlebihan.

Sumber :  http://www.mediaindonesia.com

 

Khasiat Teh Hitam untuk Penyakit Jantung, Kanker dan Diabetes January 5, 2010

Penyakit jantung koroner, stroke, diabetes, darah tinggi serta kanker hati sekarang masih menjadi penyakit pembunuh nomor satu di Indonesia. Belakangan, penyakit tersebut tak hanya menyerang orang lanjut usia karena faktor degeneratif tapi usia produktif yaitu 25-45 tahun.

Salah satu penyebab dari munculnya penyakit tersebut adalah adanya akumulasi radikal bebas atau oksidan. Radikal bebas dapat menghancurkan sistem jaringan dan integritas DNA dalam tubuh kita. Kondisi ini menstimulus percepatan proses penuaan, penghancuran lever dan menyebabkan penyakit papan atas lainnya seperti penyakit jantung dan kanker.

Setelah kemajuan industri, dan makin tingginya peluang terkena penyakit tersebut, orang-orang beralih ke pengobatan pencegahan, berupa minuman dari bahan natural. Salah satunya adalah mengkonsumsi minuman yang mengandung zat alami yang dapat mengurangi radikal bebas seperti teh hitam atau black tea.

Khasiat teh hitam diungkap Guru Besar Pangan dan Gizi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Dr. Ali Khomsan MS dan Ahli Spesialis jantung dr. Mohammad Taufik Spj.

”Memang benar teh hitam atau black tea mempunyai manfaat seperti menurunkan risiko kanker, mencegah jantung koroner, mencegah penuaan dan juga bisa menurunkan kadar kolesterol dalam darah,” papar Prof Dr Ali Khomsan MS.

Dia menjelaskan, dari berbagai referensi diketahui black tea yang selama ini dikonsumsi masyarakat, cukup banyak mengandung komponen senyawa yang baik bagi tubuh. Utamanya adalah antioksidan serta Theaflavin cukup tinggi. Senyawa itulah yang mempunyai efek dapat mengurangi risiko-risiko penyakit seperti kanker dan mencegah jantung koroner.

”Teh hitam atau black tea dibuat dari pucuk daun teh segar yang dibiarkan menjadi layu sebelum digulung, kemudian dipanaskan dan dikeringkan. Teh hitam disebut juga teh fermentasi,” katanya.

Hal senada diungkapkan dr H.Mohammad Taufik Sp.J. Dia membenarkan black tea bermanfaat untuk mengurangi penyakit jantung koroner, kanker, diabetes dan stroke.

Sayangnya, menurut Taufik, manfaat yang terkandung dalam meminum teh hitam belum banyak diketahui oleh masyarakat. Hal itu disebabkan kurangnya sosialisasi maupun publikasi dari berbagai penelitian tentang manfaat black tea bagi kesehatan.

Beberapa waktu lalu, Pusat Jantung Nasional Rumah Sakit Jantung Harapan Kita Jakarta (RSJHK) juga memaparkan hasil penelitiannya dalam talkshow dengan tema ”Efek Teh Hitam dalam Mencegah dan Mengatasi Risiko Penyakit Jantung Koroner” yang diadakan di Aula RSJHK Jakarta.

Menurut hasil penelitian tersebut, Katekin sebagai zat yang disebut dapat melawan penyakit degeneratif ternyata berupa senyawa Theaflavin. Senyawa ini merupakan antioksidan, antikanker, antimutagenik, antidiabetes dan anti penyakit lainnya. Senyawa Theaflavin dalam teh hitam jumlahnya cukup signifikan.

Secara sederhana antioksidan dinyatakan sebagai senyawa yang mampu menghambat atau mencegah terjadinya oksidasi. Berdasarkan sumbernya, anti oksidan dapat dibagi menjadi antioksidan alami dan sintetis. Theaflavin merupakan antioksidan alami yang sangat potensial.

Kemampuan Theaflavin sebagai penangkap radikal bebas sudah tidak dapat dipungkiri lagi kesahihannya. Aktivitasnya sebagai antioksidan dalam menghambat oksidasi LDL (Low Density Lippoprotein) ternyata menunjukkan hal yang menakjubkan.

Dalam seduhan teh hitam, Theaflavin memberikan warna merah kekuningan, sementara itu Thearubigin dan Theanapthoquinone masing-masing memberi warna merah kecoklatan dan kuning pekat. Untuk hal rasa, bersama-sama Kafein, Theaflavin yang ada dalam teh hitam memberikan rasa segar.

Penelitian di Belanda menyimpulkan bahwa kebiasaan minum teh hitam atau black tea dapat mencegah penimbunan kolesterol pada pembuluh darah arteri, terutama pada wanita. Minum teh hitam satu sampai dua cangkir mampu menekan penimbunan kolesterol hingga 46 %, dan jika minum empat cangkir dapat mencapai 69 %.

Hal tersebut ditunjang oleh hasil penelitian di Amerika Serikat yang menunjukkan serangan jantung berkurang 40 % pada orang-orang yang membiasakan minum teh hitam.

Teh hitam juga menunjukkan kemampuan yang meyakinkan sebagai sumber bahan pangan alami bagi para penderita diabetes terutama dalam kapasitasnya menaikkan aktifitas insulin. Penelitian yang dilakukan Departemen Pertanian Amerika Serikat yang telah dipublikasikan dalam Journal Agric Food Chem 2002, menunjukkan kemampuan teh hitam meningkatkan aktifitas insulin melebihi dari teh hijau maupun teh Oolong.

Menurut Mohammad Taufik, biasanya, para ahli kesehatan akan mempublikasikan hasil penelitiannya, setelah beberapa kali melakukan penelitian. Bila hasil penelitiannya menunjukkan hasil yang sama, baru penelitian tersebut dipublikasikan. Namun bila baru satu kali penelitian, hasilnya belum akan dipublikasikan.

Berdasarkan proses pengolahannya, teh diklasifikasikan menjadi tiga jenis yaitu teh hitam (fermentasi atau oksimatis, kependekan dari Oksidasi ensimatis), teh Oolong dan teh hijau. Konsekuensi logis dari perbedaan proses tersebut, menyebabkan lahirnya perbedaan produk teh baik secara fisik maupun kimia.

Secara kimia, perbedaan yang paling menonjol adalah perbedaan kandungan komposisi senyawa Polyfenol. Pada proses pengolahan teh hitam, dan teh Oolong, sebagian Katekin berubah menjadi Theaflavin, Thearubigin, dan Theanaphtoquinone. Meski tidak sepopuler nenek moyangnya (Katekin), Theaflavin sudah banyak dipelajari oleh sejumlah peneliti.

sumber: Republika